Pages

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
0 komentar

Sekarang Giliran Bang Pop Bicara Penemuan Ilmu



Langsung to the point saja bahwa sebenarnya diskusi Bang Pop ini tidak jauh berbeda dengan wejangan Mas Kuhn bahwa ilmu selalu mengalami perkembangan. Namun yang perlu digaris bawah adalah bahwa Bang Pop ini lebih menekankan pada pola penemuan ilmunya, berbeda dengan Mas Kuhn yang mungkin dari pandangan subyektif saya sebagai orang "ngemis ilmu" dinilai lebih umum karena berbicara perkembangan secara luas. Jadi untuk para pembaca, saya tekankan lagi bahwa Bang Pop lebih fokus pada proses penemuan sebuah ilmu dalam rangkaian perkembangan ilmu itu sendiri.

Ternyata sama dengan Mas Kuhn bahwa Bang Pop ini juga seorang epistemologist yang terpaku pada metode-metode positivis namun juga melakukan autokritik pada positivis terdahulu yaitu positivis logika induktif yang akhirnya dibantai habis-habisan oleh abang kita tercinta ini. Bang Pop merasa spesimis bahwa logika induktif  ini dapat membawa sebuah kebenaran yang terbaik dalam menjelaskan segala fenomena sosial yang ada. Bang Pop akhirnya menjelaskan bahwa sebuah kebenaran dalam logika induktif harus dibuktikan oleh logika deduktif dimana sebuah kebenaran harus dikonfirmasi ulang agar ditemukan sebuah kebenaran yang sebenarnya.

Berbicara tentang sebuah kebenaran, Bang Pop ternyata mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang absolut di dunia ini. Perlu dicatat, bahwa kebenaran di dunia ini khususnya kebenaran yang dibuat manusia hanyalah bersifat temporal atau sementara. Menurut saya sebagai orang "pengemis ilmu" memang ada benarnya bahwa kebenaran di dunia ini adalah sementara, mengingat hidup saya di dunia juga sementara dan kebenaran mutlak ada di tangan Tuhan YME. Kebenaran menurut Bang Pop ini juga masuk akal karena kebenaran di dunia ini adalah sebuah kesepakatan antar manusia saja. "Asal semua manusia sepakat maka benar" ya begitulah gambaran sederhananya. Waduh, Bang Pop ternyata kurang puas membuat orang menjadi spesimis akan kebenaran ternyata, dia dulu bilang bahwa kebenaran di dunia ini hanyalah sebuah probabilita karena konteks sekarang tidak bisa disamakan dengan konteks kedepan. Sebuah pernyataan yang yang memiliki probabilita yang paling besar maka itulah yang patut dijadikan ilmu pengetahuan.

Berbicara tentang kritik tentang sebuah kebenaran, bukan berarti Bang Pop sepenuhnya tidak menerima kebenaran, Bang Pop tetap menerima apapun kekurangannya kok. Tapi tetap saja harus ada syaratnya yaitu bahwa ketika semua manusia tidak memiliki alasan untuk menolak sebuah pengetahuan. Ibarat mereka sudah tidak bisa makan kalau tidak ada nasi ya mereka harus menerima pengetahuan dan nasi itu. Sungguh ironi memang sebenarnya jika kita melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang harus dipaksakan. Tapi bagaimana lagi, inilah satu-satunya cara menerima kebenaran menurut dia.

Ada satu hal lagi yang diomongin sama Bang Pop yaitu tentang demarkasi. Demarkasi adalah batasan untuk menilai sesuatu dikatakan ilmiah atau tidak ilmiah. Menurut Bang Pop demarkasi malah membuat rancu sebuah kebenaran. Kebenaran itu bisa muncul dari mana saja, tidak harus dari demarkasi kaku yang ditetapkan oleh sebuah ilmu pengetahuan. Bang Pop pernah menghina dengan menyebut ilmu pengetahuan yang kaku berpegang pada demarkasi adalah ilmu pengetahuan yang culas dan tidak mau menerima kebenaran dari sisi lain yang mungkin lebih benar daripada demarkasi itu.

Karena Bang Pop ini tipe orang yang sangat sibuk dan waktu sudah sore, akhirnya Bang Pop mengakhiri "diskusinya".  Ya dari semua itu dapat kita simpulkan bahwa Bang Pop itu intinya mempunyai niat yang baik bahwa dia ingin sekali penemuan ilmu itu lebih benar dengan mengkonfimasi kembali penemuan (logika deduktif) yang ada dengan logika deduktifnya. Selain itu Bang Pop mengajak kita untuk lebih kritis terhadap sebuah kebenaran yang mengaku pada kebenarannya absolut. Walaupun kita akhirnya kebenaran akhirnya diterima dengan dipaksakan karena tidak mempunyai alasan untuk menolak.

Ket: Bang Pop adalah Karl Popper yaitu seorang epistemologist yang menulis sebuah buku tentang filsafat ilmu dengan judul The Logic of Scienctific Discovery.

Tulisan ini merupakan resume inisiatif pribadi penulis dari mata kuliah filsafat kriminologi FISIP UI dengan gaya penulisan yang berbeda.  

0 komentar

Ketika Mas Kuhn Berbicara Perkembangan Ilmu


sumber gambar: http://velocity.uwaterloo.ca

Yang perlu dicatat dalam pembahasan perkembangan ilmu menurut  Thomas Kuhn yaitu perkembangan ilmu pengetahuan merupakan hasil akumulasi dari artefak (sisa-sisa) ilmu pengetahuan sebelumnya. Namun kita tidak dapat mensimplifikasi bahwa akumulasi ini murni pertambahan ilmu-ilmu sebelumnya. Karena perkembangan ilmu pengetahuan harus melewati sebuah proses-proses yang tidak mudah agar dapat dikukuhkan sebagai ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Proses tersebut akan mengalami sebuah tahap seperti dekontruksi ataupun rekontruksi hingga akhirnya menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang baru. 

Tidak dipungkiri, Mas Kuhn merupakan seseorang yang menghambakan dirinya kepada paradigma positivis, tetapi Mas Kuhn anehnya juga melakukan autokritik terhadap positivis. Mungkin lebih tepatnya Mas Kuhn ini ditempatkan pada post positivisme. Walau melakukan autokritik, tetap saja masyarakat menilai bahwa Mas Kuhn ini adalah tokoh penolak post modernitas, menolak segala perbedaan yang ada dalam ilmu pengetahuan. Dia lebih cenderung tunduk pada ilmuan alam yang berbicara ilmu sosial daripada ilmuan sosial sendiri. Dia menganggap ilmuan sosial terutama post modern merupakan peneliti yang tidak ilmiah dalam menjelaskan segala fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

Sebagai ilmuan, Mas Kuhn mengatakan bahwa ilmu pengetahuan baru harus melewati beberapa tahap agar dapat dikukuhkan sebagai teori yang berjaya oleh pada kaisar akademik di sana. Seperti halnya teori yang merupakan sekelumit dari ilmu pengetahuan, sebuah teori baru yang ingin menggeser posisi teori lama harus melewati tahap anomali dan tahap krisis bahkan revolusi ilmu pengetahuan jika ternyata teori lama secara keseluruhan tidak becus menjelaskan fakta sosial yang terjadi.

Anomali seringkali terjadi jika sebuah teori baru ingin menggeser teori lama. Di saat teori lama diam membisu saat dihadapkan oleh permasalahan sosial, maka datanglah teori baru yang siap menggeser kursi kejayaan teori lama karena teori barulah yang ternyata mampu menjelaskan permasalahan tersebut. Dalam tahap ini ilmuan-ilmuan akan mengalami kekagetan bahkan mendorong terjadinya krisis dimana ilmuan tidak memiliki patokan jelas dalam ilmu pengetahuan.

Sebelum beranjak ke krisis sebenarnya dalam tahap anomali dikenal asimilasi. Asimilasi merupakan sebuah proses modifikasi teori dimana sebagia  tubuh teori lama yang tidak layak pakai akan ditransplantasikan oleh teori baru. Jika dilihat secara fisik memang tubuhnya seperti hasil cangkokan namun secara fungsi teori lama akhirnya dapat dipakai kembali walau dengan cakokan sebagian tubuh teori baru.

Krisis terjadi ketika teori lama dan hasil asimilasi tidak dapat menjawab permasalahan yang ada. Hal ini ilmuan kebingungan dan berusaha memperbaiki teori lama dan menguji teori baru. Jika ternyata teori baru bisa menjelaskan maka dengan cepat para ilmuan akan membuang teori lama dan menggantinya dengan teori baru dan krisis rampung kemudian.

Pertanyaannya adalah bagaimana jika krisis tidak dapat menjawab fenomena permaasalahan tersebut. Kiamat dalam ilmu pengetahuan pun terjadi dimana teori akan dirombak, bahkan paradigma ilmu pengetahuan sekalipun. Ini merupakan hal yang sangat mengerikan bahwa teori-teori yang ada dan dipercaya sebelumnya merupakan kesalahan fatal dengan penjelasan tiada guna. Umumnya jika melihat kondisi tersebut akan terjadi revolusi ilmu pengetahuan dimana ilmu pengetahuan akan dirombak dan dikontruksi dari awal dan dicari letak kesalahannya dan dicari solusi untuk menemukan ilmu pengetahuan yang baru.

Tidak lupa bahwa perkembangan ilmu milik Mas Kuhn ini disebut dengan normal science dimana perkembangannya merupakan akumulasi dari ilmu-ilmu sebelumnya yang masih meninggalkan artefak-artefak yang masih berguna bagi ilmu pengetahuan yang masih berlaku. Sekali lagi Mas Kuhn tekankan bahwa akumulasi di sini tidak murni pertambahan dalam konteks ilmu namun seiring pertambahannya juga menemui kontruksi dan dekontruksi ilmu pengetahuan.

Sekian dari Mas Kuhn.


*Tulisan ini merupakan review kecil inisiatif dari penulis dalam mata kuliah filsafat kriminologi FISIP UI dengan sedikit perubahan pada gaya penulisannya..

1 komentar

Belajar untuk Hidup atau Hidup untuk Belajar?

Entah kenapa rasa ketakutan itu selalu saja muncul dalam benak hati dan pikiran. Segala pertanyaan yang terlontar, "Besok setelah lulus mau ngapain?" selalu terngiang dalam keseharian. Sebagian berpikir bahwa hari ini adalah untuk hari ini dan tak perlu memikirkan esok hari. Mungkin tipe orang ini yang akan selalu menikmati kesehariannya. Namun bagaimana dengan orang macam aku ini yang berpikir mengapa aku harus melakukan ini dan apa untungnya kedepan.

Makan siang pun selesai dan terdapat berbincangan kecil tentang makanan. Ada temanku seorang mengatakan bahwa kita makan ini untuk hidup atau hidup ini untuk makan? Semua terdiam dan berpikir sejenak. Kita tersadar bahwa sejatinya makan itu adalah untuk kelangsungan hidup, namun kebanyakan orang berpikir bahwa hidup itu untuk makan. Makan-makan! Seringkali mendengar kan? Banyak orang yang makan namun mati kemudian.

Jika dianalogikan dengan belajar pastilah tidak jauh berbeda. Kembali ke pertanyaan, kita belajar untuk hidup atau hidup untuk belajar? Belajar untuk hidup adalah pola pikir bahwa seseorang belajar dengan tujuan agar dia dapat bertahan hidup di tengah rimba modernitas ini. Mereka dipersiapkan untuk mengarungi lautan persaingan dengan bermodalkan perahu dan dayung hasil buatannya selama belajar.

Jika dibalik menjadi bahwa hidup untuk belajar. Apakah pola pikir seperti ini akan mengalami hal yang sama seperti makan yaitu "mati" di tengah lautan persaingan. Apakah orang yang seperti ini belum tahu apa sebenarnya hakikat belajar? Bagaimana aku bisa melihat seseorang bahwa dia belajar untuk hidup atau hidup untuk belajar?

Aku tidak mau "mati" di dalam laut. Kini aku mengerti bahwa sejatinya belajar itu adalah belajar tentang kehidupan. Mengambil setiap tetes nilai kehidupan dalam permasalahan-permasalahan yang ada. Kuliah memang ada benarnya namun itu bukanlah suatu pembenar yang mutlak untuk dijadikan tolak ukur pembelajaran.

Sekali lagi, aku tidak mau "mati" di dalam laut.

0 komentar

Epistemologi Ilmu Sosial


Pada dasarnya epistemologi adalah ilmu yang mempelajari ilmu (ilmu dari ilmu). Namun jika dipaparkan lebih lanjut epistemologi adalah ilmu yang mempelajari
1. Sumber ilmu (rasio dan empiri)
2. Batas-batas ilmu (phenomenon)
3. Struktur ilmu (hubungan antara subyek dengan obyek)
4. Keabsahan ilmu (kebenaran tentang suatu ilmu)

Epistemologi dalam Ilmu Sosial

1. Sumber Ilmu
Dalam ilmu sosial dikenal tiga sumber pengetahuan yaitu:
a. Sumber pengetahuan positivis
Sumber pengetahuan positivis pada umumnya berasal dari pengalaman empiris dan rasio namun sumber utamanya adalah empiris dan logis. Keempirisan dan kelogisan sebuah ilmu sosial dapat diketahui melalui sebuah penelitian terhadap sebuah sampel yang representatif atau dapat mewakili karateristik populasi penelitian. Jika ternyata hasil penelitian sampel menunjukkan kondisi realita atau dapat menunjukkan hubungan kausalitas yang sesungguhnya maka dapat diketahui hasil penelitian tersebut valid dan patut disebut ilmu pengetahuan sosial dalam paradigma positivis.
b. Sumber pengetahuan interaksionis
Sumber pengetahuan interaksionis berasal dari pengalaman terhadap tindakan sosial menurut pengalaman dan sejarah  aktor (peneliti). Berbeda dengan positivis, interaksionis mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan berdasarkan pemahaman akan suatu permasalahan bukan mengukur suatu permasalahan. Karena berupa pemahaman dan berusaha untuk mendapat pengakuan ilmu pengetahuan, maka makna subjektif harus dipahami oleh aktor sendiri dan aktor-aktor lain.
c. Sumber pengetahuan konflik
Dalam paradigma konflik, ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman kesejarahan yang diwujudkan dan berhubungan dengan struktur dan implikasi global. Bagi para ilmuwan sosial feminis, ini merupakan sebuah sarana untuk perjuangan perempuan dalam emansipasi wanita. Bagi para realis merupakan gambaran keadaan lokal sekarang bukan bermaksud untuk mendekontruksi dan merekontruksi konsep dan ketertiban.
d. Sumber pengertahuan post modern dan budaya
Sumber pengetahuan post modern merupakan hasil gabungan antara unsur-unsur masing-masing paradigma yang terbaik kemudia diperoleh sebuah ilmu pengetahuan yang menjelaskan realitas sosial yang terjadi. Dalam paradigma ini realitas sosial diyakini akan selalu mngalami perubahan.  Bagi budaya, merupakan makna dan pengalaman anggota terhadap cara hidup dalam kebudayaan yang dianutnya.

2. Batas pengetahuan
Pada dasarnya batas pengetahuan ilmu pengetahuan sosial itu sama yaitu harus dapat ditempatkan dalam konteks ruang dan waktu.  Dalam paradigma positivis, batas ilmu pengetahuan harus dapat ditempatkan dimana saja dan kapan saja karena positivis dituntut untuk bersifat universal dan mampu melakukan generalisasi. Bagi paradigma interaksionis, ilmu pengetahuan sosial harus benar menurut rasionalias karena menyangkut mikro sosial yaitu tindakan individu sendiri. Bagi paradigma konflik, batas ilmu pengetahuan ditentukan oleh konteks kesejarahan dalam strukur masyarakat. Dan terakhir bagi postmodern dan budaya, ilmu pengetahuan sosial akan diterima sepanjang apabila ilmu pengetahuan tersebut bermanfaat

3. Stuktur pengetahuan
Pada dasarnya struktur pengetahuan menjelaskan tentang hubungan antara orang yang mencari ilmu pengetahuan (knower) dengan pengetahuannya (knowledge).

Knower <---------> Knowlegde

a. Positivis menjelaskan bahwa knower harus melihat knowlegde sebagai objek. Knower akan menjelaskan apa adanya tentang keadaan objek tanpa intervensi subjektif dari knower. Diharapkan dengan hubungan ini dapat menggambarkan hubungan objektif yang mampu menjelaskan realitas sosial dengan ilmu pengetahuan yang ditemukan. 
b. Interaksionis menjelaskan bahwa knowlegde dijelaskan dengan pemahaman subjektif dari knower. (terdapat hubungan subjektif dari knower kepada knowledge)
c. Konflik menjelaskan bahwa terdapat hubungan keberpihakan dari knower kepada knowledge. Sehingga terdapat sebuah kepentingan knower dalam melihat knowledge.
d. Post modern menjelaskan bahwa terdapat hubungan kepedulian dari knower kepada knowledge.
e. Budaya menjelaskan bahwa knower melihat knowledge karena rasa simpati untuk mempelajari knowledge tersebut.

4. Keabsahan pengetahuan
Terdapat dua cara melihat sebuah keabsahan/kebenaran sebuah pengetahuan yaitu:
a. Apakah sesuatu yang benar itu?
b. Bagaimanan kita tahu bahwa itu benar dan apa kriterianya?

Dalam filsafat ilmu sosial dikenal dua bentuk kebenaran yaitu kebenaran tanpa syarat dan kebenaran kontigensi.

1. Kebenaran tanpa syarat
Kebenaran tanpa syarat adalah suatu kebenaran yang merupakan ekspresi  yang tidak mungkin salah. 
Contoh: segitiga memiliki tiga sisi (tidak mungkin segitiga memiliki enam sisi)
Selain itu kebenaran tanpa syarat juga disebut kebenaran tanpa fakta (apapun itu akan selalu benar). Adapun lawan dari kebenaran tanpa syarat adalah kekeliruan tanpa syarat.
Kebenaran tanpa syarat terbagi menjadi dua yaitu apriori dan kebenaran analitik

Apriori 
Kalimat kunci: "dari dulunya begitu"
-Sebelum mengalami atau independen dari setiap pengalaman dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.
Contoh: air adalah benda berbentuk cair. (dari dulu air selalu berbentuk cair)

Kebenaran analitik
-Kadang-kadang kebenaran bersifat analitik.
-Kontrakdiksi dianggap sebagai perlawanan nalar.
Contoh: mbakyu dan diajeng adalah perempuan. (mbakyu dan diajeng adalah predikat yang dibuat seseorang untuk menunjukkan identitas perempuan)

2. Kebenaran empiris/kontigensi
Yaitu kebenaran dimana untuk mencapai kebenaran tersebut harus melalui tahap-tahap tertentu. Adapun kebenaran kontigensi harus memenuhi syarat berikut ini:
a. empiris yaitu harus berhubungan dengan pengalaman.
b. kebetulan yaitu tergantung pada pengalaman.
c. pernyataan dianggap benar karena kenyataannya begitu.
d. sesuatu dikatakan benar apabila didukung oleh fakta-fakta yang dilihat secara sungguh-sungguh.
Contoh: terdapat mikro organisme di planet mars (untuk mendapatkan pemahaman seperti itu diperlukan tahap-tahap pemahaman dan pengukuran yang didasari oleh fakta-fakta yang mendukung)

*Tulisan ini merupakan review epistemologi ilmu sosial dari perkuliahan filsafat kriminologi FISIP UI


0 komentar

Pengertian Ontologi

          Ontologi menurut Aristoteles berasal dari dua kata yaitu on yaitu keberadaan atau esensi dan logos yaitu ilmu. Jadi pada intinya ontologi adalah ilmu yang mempelajari keberadaan suatu benda atau disebut dengan The Theory of Being Qua Being yaitu teori tentang keberadaan sebagai keberadaan (Sumarna, 2006). Secara istilah, ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat keberadaan suatu benda yang bersifat terlihat dan tidak terlihat. Menurut Sidi Galzaba, Ontologi mempersoalkaan sifat dan keadaan terakhir daripada kenyataan karena itu disebut ilmu hakekat, hakekat yang bergantung pada pengetahuan ilmu alam atau fisika memikirkan yang nyata tanpa mempersoalkan hakekatnya, ontologi (ilmu hakekat) justru mempersoalkan hakekat itu, dengan memisahkan secara tajam antara subjek dan objek (Gazalba, 1973). Ontologi jika dikaitkan dengan keilmuan berarti ilmu yang mempelajari keberadaan suatu ilmu pengetahuan mulai dari asal muasalnya hingga konsep-konsep apa yang membangunnya dengan ditelaah secara kritis agar diketahui keberadaan sesungguhnya.
Ontologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari hakikat keberadaan suatu benda dimana untuk mengetahui benda tersebut diperlukan panca indera. Maka dari itu, terdapat suatu perdebatan dalam ontologi bahwa apakah semua yang kita lihat adalah suatu penampakan tunggal dari satu sumber ataukah memang suatu realitas yang berdiri sendiri.
Ruang lingkup ontologi menurut Van Cleve Moris terbagi menjadi 4 ruang lingkup yaitu mengetahui keberadaan suatu benda sesungguhnya, mengetahui seberapa pentingnya benda itu ada, mengetahui apa saja fungsi yang membedakan, dan mengetahui apakah semua itu ada. Dalam ontologi dikenal beberapa aliran seperti monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnotisisme. Namun secara garis besar aliran tersebut memiliki cara tersendiri untuk menjawab pertanyaan dalam ontologi yaitu:
·         Apakah yang ada itu?
·         Bagaimana yang ada itu?
·         Dimanakah yang ada itu?
Berikut merupakan penjelasan singkat mengenai aliran-aliran ontologi:
·         Monoisme, yaitu aliran ontologi yang meyakini bahwa semua yang ada di dunia ini berasal dari satu sumber. Benda-benda yang ada di dunia ini tidak mungkin dapat berdiri sendiri dan pasti ada sumbernya. Adapun tokoh dari aliran ini adalah Plato. Monoisme terbagi menjadi dua yaitu materialisme dan idealisme. Materialisme menganggap bahwa sumber asal adalah materi, bukan rohani. Sedangkan idealisme menganggap bahwa di dalam materi terdapat sesuatu yang tidak terlihat namun dapat diketahui keberadaannya.
·         Dualisme, yaitu aliran ontologi yang meyakini bahwa semua yang ada di dunia ini berasal dari dua hakikat diantaranya hakikat yang menjadi sumber dan hakikat yang berdiri sendiri dan bersifat bebas. Tokoh dari aliran ini adalah Descartes.
·         Pluralisme, yaitu aliran ontologi yang meyakini bahwa semua yang ada di dunia ini berasal dari banyak hakikat. Adapun tokoh dari aliran ini adalah Anaxagoras dan Empedocles.
·         Nihilisme, yaitu aliran ontologi yang meyakini bahwa tidak ada yang nyata dalam dunia ini. Gorgias (485-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1900 M).
·         Agnotisisme, yaitu aliran yang mengingkari manusia untuk mengetahui sesuatu hakikat benda karena manusia sendiri belum dapat menjelaskan benda tersebut secara konkrit.
Sumber:
Gazalba, S. (1973). Sistimatika Filsafat Pengantar kepada Teori Pengetahuan. Jakarta: Bulan Bintang.
Sumarna, C. (2006). Filsafat Ilmu dari Hakikat Menuju Nilai. Bandung: 47.


1 komentar

Pengertian Epistemologi

            Epistemologi dalam filsafat pada dasarnya adalah ilmu yang mengkaji kebenaran secara umum sebuah pengetahuan sehingga dapat ditemukan sebuah kebenaran yang bertanggungjawab. Secara terminologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan  atau epistamai yaitu mendudukkan atau menempatkan. Sedangkan  secara harfiah epistemologi adalah pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Selain disebut dengan epistemologi, ilmu ini juga disebut dengan gnoseologi yang artinya teori pengetahuan.
Epistemologi dalam mengkaji sebuah kebenaran epistemologi perlu mengetahui ciri-ciri umum sebuah pengetahuan seperti
·           Bagaimanan dasar sebuah ilmu pengetahuan?
·           Bagaimana ruang lingkup?
·           Kritis mengkaji pengandaian / syarat logis dengan mempertanggungjawabkan secara rasional.
Selain itu epistemologi juga disebut ilmu yang evaluatif, normatif, dan kritis. Evaluatif di sini berarti mampu menilai kebenaran yang objektif dan mampu membuktikan bahwa pengetahuan tersebut benar-benar sebuah kebenaran. Normatif berarti imu tersebut dapat memberikan sebuah tolak ukur kebenaran, maksudnya sampai dimanakan sesuatu pengetahuan tersebut dapat diakui sebagai sebuah kebenaran. Dan kritis yaitu mampu mempertanyakan asumsi asumsi, pendekatan-pendekatan, dan kesimpulan-kesimpulan. Adapun tujuan adanya kritis di sini adalah untuk mempertanggunjawabkan kebenaran yang mampu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Adapun filsafat yang sering membicarakan epistemologi adalah filsafat sains. Adapun filsafat sains ini adalah langkah awal yang mendorong adanya ilmu pengetahuan. Terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam filsafat sains yaitu metodologi dan manfaat. Metodologi di sini maksudnya dalam filsafat sains sudah terdapat suatu cara-cara yang sah dalam menemukah pengetahuan yang ilmiah yang tercantum dalam metodologi penelitian. Dengan metodologi penelitian tersebut maka sebagai akademisi jika pengetahuan yang dimiliki ingin dijadikan sebuah ilmu pengetahuan haruslah memenuhi unsur-unsur yang ada di dalam metodologi  tersebut. Kemudian manfaat, yaitu bahwa sesuatu yang dianggap sebagai ilmu pengetahuan tersebut selain benar juga harus bermanfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat ini nantinya juga akan berguna jika terdapat seseorang yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah ditemukan.
Epistemologi merupakan sebuah ilmu pengetahuan, namun ilmu pengetahuan epistemologi berbeda dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Adapun perbedaannya adalah terletak pada objeknya, jika ilmu pengetahuan lain belajar tentang objek ilmu itu sendiri maka epistemologi belajar tentang bagaimana objek itu ada dengan melihat dari berbagai pendekatan-pendekatan (belajar tentang proses terbentuknya objek). Dalam pendekatan objek tersebut tentunya tidak lupa untuk mengkritisi terhadap objek-objek yang biasa dianggap sebagai hal yang taken for granted.
Mengenai jenis jenis epistemologi terdapat tiga jenis epistemologi berdasarkan titik pendekatannya yaitu epistemologi metafisis, epistemologi skeptis, dan epistemologi kritis. Epistemologi metafisis adalah epistemologi yang membahas tentang suatu paham, ide, atau ses uatu yang tidak bisa dilihat secara kasat mata misalkan seperti kejahatan. Kejahatan dibahas oleh epistemologi metafisis sebagai sesuatu hal yang tidak bisa dilihat namun dampaknya dapat dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat. Epistemologi skeptis yaitu epistemologi yang membahas tentang sesuatu yang terlihat oleh panca indera, maka dari itu segala hal yang diluar diinderawi manusia akan diragukan dalam pendekatan ini. Terakhir adalah epistemologi kritis yang tidak memprioritaskan metafisis dan skeptis namun lebih melihat pada pendekatan asumsu, prosedur, kesimpulan dan disesuaikan dengan akal sehat manusia. Epistemologi kritis tentunya selama ini merupakan pendekatan yang terbaik antara kedua pendekatan sebelumnya.
Dilihat dari objek yang dipelajari, epistemologi terdiri dari dua jenis yaitu epistemologi individual dan sosial. Epistemologi individual adalah sebuah kajian terhadap bagaimana proses individu menemukan dan mengetahui pengetahuan manusia. Epistemologi macam ini telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu psikologi kognitif. Salah satu cabang dari epistemologi individual ini adalah epistemologi evolusioner. Epistemologi sosial adalah kajian terhadap proses menemukan sebuah pengetahuan dalam konteks sosial dengan melihat faktor-faktor dan  hubungan-hubungan dalam masyarakat.
Mengapa mempelajari epistemologi?
Menurut Sudarminta, terdapat tiga alasan mengapa mempelajari epistemologi:
1. Pertimbangan strategis: kajian epistemologi perlu karena pengetahuan sendiri sangatlah strategis bagi kehidupan manusia.
2. Pertimbangan kebudayaan: bahwa epistemologi mencari tahu pengetahuan dari unsur-unsur dan sistem kebudayaan yang dianggap penting bagi kehidupan manusia.
3. Pertimbangan pendidikan: sebagai usaha sadar untuk membantuk peserta didik mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup  dan keterampilan hidup untuk tidak lepas dari penguasaan pengetahuaan.

Dasar-dasar pengetahuan
Berikut merupakan dasar-dasar munculnya sebuah pengetahuan:
1. Pengalaman: adalah keseluruhan peristiwa perjumpaan dan apa yang terjadi pada manusia dalam interaksinya dengan alam, diri sendiri, lingkungan sosial sekitarnya dan seluruh kenyataan termasuk dengan Tuhan.
2. Ingatan: pengalaman tidak dapat berdiri sendiri, dibutuhkan ingatan untuk menyimpan pengalaman. Adapun ingatan dapat menjadi sebuah pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya apabila memiliki kesaksian atas peristiwa dan ingatan harus bersifat konsisten.
3. Kesaksian: suatu penegasan sesuatu sebagai benar oleh seseorang saksi kejadian atau peristiwa dan diajukan sebagai menerima sesuatu sebagai benar berdasarkan keyakinan akan kewenangan atau jaminan otoritas.
4. Minat dan rasa ingin tahu: Minat mengarahkan pada perhatian terhadap sesuatu yang penting dan rasa ingin tahu adalah keinginan yang mendorong untuk bertanya melakukan penyelidikan atas apa yang dialami dan menarik minatnya.
5. Pikiran dan penalaran: kedua hal tersebut saling berkaitan bahwa dalam proses berpikir membutuhkan penalaran untuk memungkinkan timbul pengetahuan.
6. Logika: logika sebagai sarana penalaran untuk mencapai suatu kebenaran.
7. Bahasa: bahasa merupakan landasan untuk  memungkinkan manusia untuk melakukan penalaran hingga timbul sebuah pengetahuan.
8. Kebutuhan hidup manusia: pengetahuan muncul sebagai dimensi pragmatis dimana pengetahuan muncul sebagai tuntutan pemenuhan kebutuhan.

9 komentar

Review tentang Science and Common Sense


Pada dasarnya science and common sense menjelaskan tentang sejarah munculnya ilmu pengetahuan sebagai hasil pemikiran manusia. Diawali dari rasa ingin tahu yang tinggi dengan lingkungan sekitar sebagai sifat dasar manusia. Kemudian dengan rasa ingin tahu tersebut muncullah common sense. Di saat common sense dirasa belum dapat menjelaskan rasa keingintahuan manusia maka munculah pengetahuan (scientific) berlanjut ke ilmu pengetahuan (science) sebagai sebuah metode ilmiah yang mampu menjelaskan secara objektif. Selain menjelaskan ilmu pengetahuan secara historis, tulisan ini juga membedakan secara tegas antara common sense dan prescientific sebagai kelompok “ilmu” yang tidak dapat dikatakan sebagai kebenaran dengan science yang sudah teruji kebenarannya yang sebelumnya banyak orang yang memperdebatkan hal tersebut .
Manusia terus berkembang dan bertahan hidup dalam meningkatkan kemampuan untuk menggali  informasi. Adapun pada zaman dahulu, manusia masih menggunakan pengetahuan yang sederhana tanpa metode ilmiah yang baku. Hal ini disebut dengan common sense yang biasanya dikenal umum sebagai bahasa orang awam. Common sense pada dasarnya merupakan bukan hasil produk intelektual modern karena secara tidak bisa diterima kebenarannya. Seperti halnya Lord Mansfield berkata bahwa tidak ada kesulitan (common sense) dalam menjelaskan sebuah kasus, hanya mendengar dari kedua sisi dengan sabar dan mempertimbangkan dengan asas keadilan, dan kemudian memutuskan secara benar tetapi tidak pernah memberikan alasan, mungkin saja keputusan itu benar tetapi kecil sekali kemungkinan, tetapi yakinlah alasan tersebut tentunya salah. Common sense ini nanti akan menjadi pedoman awal manusia untuk mengeksplorasi segala yang ada di dunia ini.
Dalam perkembanganya, common sense ini akan berkembang menjadi scientific. Adapun scientific merupakan penjelasan kognitif yang dikaitkan dengan gejala alam dan bersifat metafisika. Disini manusia mulai menggunakan kepercayaannya dalam menjelaskan suatu fenomenan alam. Dalam perkembangan ini, manusia selalu mengaitkan dengan dewa dan roh leluhur sebagai sumber segala fenomena alam yang terjadi. Manusia pada saat ini mengembangkan scientific tidak untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya namun hanya untuk memperoleh kebanggaan tersendiri. Adapun contoh dari scientific adalah pada saat masyarakat sedang melakukan cocok tanam. Tentunya dalam melakukan cocok tanam tidak dapat sembarang mencocok tanam, perlu sebuah tradisi dan momen yang tepat dalam melakukan cocok tanam. Tradisi seperti mencukur rambut dan melihat bintang (astrologi) sebelum menanam merupakan salah satu bentuk dari common sense dan scientific.
Banyak orang berkata bahwa common sense dan scientific dapat menjelaskan sebuah fenomena yang dihadapi manusia dengan benar. Misalkan pada saat bercocok tanam, banyak orang yang menentukan masa tanam dengan melihat bintang atau dengan ritual-ritual lain. Orang pun percaya bahwa dengan melakukan hal tersebut mampu memberikan waktu yang tepat dalam menjelaskan kapan masa tanam tiba. Namun dalam tulisan ini secara tegas itu tidaklah benar, perlu sebuah penegasan bahwa ilmu pengetahuanlah yang mampu menjelaskan semua fenomena manusia. Perlu sebuah metode yang sistematis dalam penelitian dan hasilnya objektif dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu perlu untuk membedakan science dengan common sense dan scientific.
Adapun perbedaannya adalah:
1. Science bersifat sistematis dan dapat dikontrol yang dinyatakan dengan formula dan memiliki proposisi dalam menjelaskan alasan terjadinya suatu fenomena secara jelas, berbeda dengan common sense dan scientific hanya berupa pertimbangan-petimbangan menurut akal semata.
2. Common sense dan scientific kemungkinan bisa saja akurat, namun harus diketahui bahwa keakuratan tersebut memiliki batas. Apakah common sense dan scientific mampu mengatasi hal tersebut? Science memiliki keakuratan yang tepat sehingga kalaupun terjadi perubahan, kontrol dapat segera dilakukan dan dapat kembali akurat.
3. Common sense dan scientific hanya sebatas pada keputusan yang didasari oleh keyakinan seseorang (human concern). Padahal keyakinan seseorang pasti berubah-ubah atau tidak konsisten karena banyak faktor luar yang mempengaruhinya. Hal ini common sense dan scientific belum mampu mempertanggungjawabkan kebenarannya secara utuh. Berbeda dengan science yang lebih menekankan pada penelitian dan observasi kritis.
4. Common sense dan scientific tidak memiliki hubungan sebab akibat yang jelas. Terlihat dari spesifikasi setiap unsurnya yang tidak jelas dan kurang spesifik. Berbeda dengan science yang memiliki formula dalam menjelaskan hubungan sebab akibat dan jelas setiap spesifikasinya.
5. Hanya menegaskan bahwa common sense dan scientific terfokus pada nilai-nilai seseorang dan oranglah sumber dari kebenaran. Berbeda dengan science yang menggunakan teori yang teruji kebenarannya dalam menjelaskan sebuah fenomena dengan penelitian lapangannya.
6. Perbedaan kontras dari common sense dan scientific dengan science adalah science melibatkan kognitif secara kritis dan didukung dengan observasi data dalam menjawab setiap tantangan. Berbeda dengan common sense dan scientific yang hanya keputusan seseorang semata.