Pages

Modus Operandi Pembajakan di Selat Malaka



Bermula dari sekelompok orang yang memiliki kepentingan tertentu. kepentingan tersebut berupa kepentingan ekonomi, gaya hidup, atau sebagai pendanaan kegiatan illegal. Mereka sangat terkoordinasi yang terdiri dari 5 atau sampai belasan orang (Al Ajazeera English, 2008). Adapun sumber ini merupakan hasil wawancara oleh wartawang Al Ajazeera kepada para perompak dari Aceh. Pertama, mereka mengintai dari pantai bila terdapat sebuah kapal yang lewat. Jika mereka menemukan sebuah kapal yang disinyalir sebagai kapal yang memiliki nilai untuk dirompak maka mereka langsung bergerak. Dengan kapal nelayan dengan mesin motor, mereka segera bergegas menuju laut. Perompak dari Aceh ini berbeda karena hanya memakai golok sebagai senjata utamanya dan memakai topeng agar wajah mereka tidak terlihat bahkan mereka juga tidak memakainya.
Setelah itu mereka mengejar kapal incaran, kapal mereka cukup sederhana dan tetap memakai bendera Indonesia sebagai identitas kapal.  Mereka mendekat ke kapal dan naik ke kapal menggunakan tali. Adapun yang pertama mereka tuju adalah ruang kendali utama kapal. Mereka juga menggunakan GPS dalam mendukung aksinya, selain itu menurut sumber lain dari Indonesia Maritime Institute, ternyata banyak perompak yang menggunakan senjata rifle sejenis AK 47 yang mudah didapatkan dipasaran dan di depan kapal perompak mereka dipasang senapan mesin (Indonesia Maritime Institute, 2012). Kembali ke persoalan ruang kendali utama, alasan mereka menguasai tempat tersebut adalah bahwa segala kendali kapal berada di tempat tersebut. Mereka biasanya meminta kapal untuk berubah arah haluan atau berhenti. Mereka juga mengambil alih sistem komunikasi kapal. Selain ruang kendali utama, mereka juga menguasai ruang mesing. Ruang mesin adalah bagian strategis kedua dalam kapal setelah ruang kendali utama. Maka dari itu, para perompak umumnya menyadera pemimpin kendali kapal dan kepala ruang mesin kapal.
Setelah itu mereka merampas apa saja barang berharga milik kapal. Setelah mereka merasa cukup mereka akan kembali ke kapalnya. Namun bagi perompak yang belum puas, mereka akan meminta tebusan kepada pemilik kapal atau perusahaan tempat kapal bernaung. Dengan sistem komunikasi, mereka akan menghubungi pihak yang akan mereka ancam. Biasanya mereka meminta uang tebusan dalam jumlah banyak. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka minta, biasanya kapal dibiarkan begitu saja atau dibakar. Untuk masalah sandera, kebanyakan mereka melakukannya secara manusiawi namun mereka tetap mengancam jika sandera melawan bahkan tidak segan para perompak tersebut membunuh. Sebenarnya tujuan mereka yang utama bukanlah merusak atau menyakiti sandera, namun mereka hanya membutuhkan materi seperti uang sehingga menyakiti sandera bukanlah prioritas utama.  Terdapat pengakuan dari sandera bahwa para perompak memperlakukan mereka dengan baik layaknya dengan orang biasa saja dan mereka tetap mendapatkan jatah makanan dan perawatan yang cukup (Indonesia Maritime Institute, 2012). 

btemplates

0 komentar:

Posting Komentar